Friday, 12 October 2007

Telepon Selular di Semua Strata Kehidupan




Stock Ayam di Gudang Masih Pak?


Halo? Apa ya bahasa inggrisnya kupat?

Kebutuhan masyarakat bertelekomunikasi telah menjadikan telepon selular sebagai suatu sentuhan teknologi moderen, yang keberadaannya merata di hampir semua lini kehidupan, ia diperlukan dalam bersosialisasi secara umum, terutama untuk bisnis di kalangan masyarakat “gedongan”, sampai ke sudut-sudut kantong pedagang pasar tradisional.

Sekitar dua dekade yang lalu, ketika muncul “telepon mobil”, dalam arti harfiah berupa telepon genggam yang “menempel” pada mobil jenis mewah, hanya kalangan eksekutif tertentu saja yang bisa menikmati fasilitas tersebut. Namun seiring dengan semakin canggihnya penerapan teknologi digital, harga telepon selular semakin hari kian terjangkau oleh semua kalangan masyarakat di seluruh penjuru dunia.


*****(Joseph AB)

Profile Fotografer “Bermata Elang” - Sugede Sudarto





Sugede Sudarto, di kalangan kawan-kawan di kota Solo dikenal dengan nama “Mas Gede”. Karena postur tubuh Mas Gede termasuk yang tidak tinggi besar, banyak orang mengira ia berdarah Bali, pasalnya: barangkali saja nama Gede berasal dari kepanjangan dari “ I Gede Amat”.


Ternyata bukan, Mas Gede etnis Jawa asli Solo. Ceritanya ayahandanya berprofesi sebagai eksekutif Hotel Merdeka, sebuah jaringan hotel mewah di masa lalu. Dan sesuai dengan tugas sang ayah yang bersifat rotary, menetap selama sekian tahun di kota yang satu, kemudian pindah ke kota lain yang mempunyai jaringan Hotel Merdeka. Sang ayah juga mempunyai hobby membuat tetenger (tanda untuk kenang-kenangan), dengan cara menamai putra-putra beliau sesuai dengan nama gunung yang menaungi sebuah kota di mana putra dari “keluarga nomaden” mereka di lahirkan. Kakak serta adik Mas Gede bernama Sindoro, Semeru, nah nama Mas Gede tak lain berasal dari kota kelahirannya di Cianjur, yang “dinaungi” Gunung Gede.
Kalau tadi kita membicarakan asal-usul nama Mas Gede, selanjutnya kita akan meneropongi karya fotografi sarjana desain grafis yang humoris ini.

Sudah ada dua dekade ia menggeluti profesinya sebagai fotografer dokumentasi. Dari orderan untuk membuat company profile, foto wisuda, juga foto pernikahan.


Tapi di samping itu, setiap ada waktu luang, Mas Gede aktif berburu foto ke berbagai pelosok tanah air. Ia rajin menggeluti foto-foto flora, fauna, terutama foto kategori human interest. Hasil berburu foto ini ia simpan sebagai Stock Photo, atau ia ikutkan dalam lomba-lomba foto yang khusus berhadiah uang (di kalangan teman akrabnya dijuluki “Renegade”, profesional spesialis dalam memburu reward!).

Selain telah melampaui jam terbang yang tinggi, semangat dan antusiasnya yang konsisten dalam dunia fotografi, telah mengantar Mas Gede acapkali memenangkan lomba foto bergengsi dengan meraih hadiah puluhan juta rupiah.



Salah satu ciri khas dari foto-foto Mas Gede adalah: nampak sekali ketekunan serta kejeliannya dalam mencari serta menentukan “kapan obyek foto itu harus dibidik!” Galeri Life-Photoz kali ini memuat foto-foto karya priyayi Solo berperangai halus, penuh gelak-tawa, tapi memiliki “mata elang” dalam berburu foto ini.


*****(Joseph AB)

Monday, 17 September 2007

FOTO WISATA AMERIKA [3]

New York City Di Mata Mat Kodak (Penjinjing Kamera)

Ada dua pilihan bis dari Philadelphia ke jantung kota New York yang berjarak tempuh 2 jam, Greyhound Dan Century, terminal Bis Century di kedua kota itu berlokasi di tengah China Town. Begitu turun dari Bis Century di N.Y. China Town, wow, tercengang rasanya melihat pemandangan pecinan yang sangat sibuk ini!



Restoran, gedung pertokoan, maupun gedung huniannya serba berjejalan, hiruk pikuk kendaraan ditimpali logat bahasa yang setengah berteriak. Perasaan seperti terdampar di kota Hongkong dalam skala lebih gede. Tapi bangunlah, ini New York, Bung! Bagi Mat Kodak, seperti halnya Pulau Bali, setiap sudut kota banyak dijumpai obyek foto layak untuk dijepret! Tapi fokuslah! Metropolitan New York dibangun dengan cita rasa sangat artistik, juga luar biasa luas, kita tak dapat dalam waktu sehari mau ‘menelan’ semuanya. Hitung waktu yang ada dan pilih obyek mana yang diprioritaskan, salah hitung hasilnya malah bisa seperti turis yang memotret dari balik jendela bis wisata doang!



Mengikuti rencana, siang itu ayunkan langkah saja tanpa target muluk-muluk, nikmati nuansa ‘kia-kia’ (jalan-jalan) di China Town. Dari seratusan frame yang dijepret, penulis memilih Foto Passing Cebra Cross: sebagian besar gambar didominasi papan-papan petunjuk jalan, lampu trafik, dan bengunan bertingkat yang seolah-olah ‘mengerubuti’ nenek tipikal Tionghwa sedang tertatih-tatih pada ujung terakhir dari sang zebra cross.



Rute hari berikut: Wall Street, Broadway. Refleksi ‘ground zero’, bekas gedung WTC yang sedang dibangun, lewat kaca jendela kantor Tribute WTC Centre.
Selepas tengah hari masuk ke terminal ferry yang hilir mudik ke Pulau Liberty. Ya, melihat dan memotret patung Liberty adalah salah satu obsesi penting kali ini dalam wisata ke negeri paman Sam! Perlu waktu panjang dan sabar untuk dapat naik ke ferry, beli tiket antrinya melingkar-lingkar, setelah itu pada lajur yang berbeda antri panjang lagi untuk masuk dermaga. Pemeriksaan barang bawaan sebelum naik ferry ketatnya tak ubahnya seperti security check di bandara, semua masuk keranjang plastik untuk di x ray, termasuk sepatu! Tak sampai 20 menit ferry telah mendekati Liberty dan mendarat di pulau itu. Tiada kata lain ketika menyaksikan sendiri patung cantik berukuran raksasa ini: menakjubkan nian! Jutaan ‘imigran tempo doeloe’ yang dengan susah payah naik kapal laut masuk ke Amerika, mempunyai memori indah kepada patung ‘selamat datang’ yang dibangun orang Perancis untuk mereka ini!
Patung Liberty-nya ‘same old story’, penulis sudah berdiri hanya beberapa puluh meter dari fondasi yang melandasi Liberty, dan siang itu dianugrahi cuaca luar biasa cerah, kolong langit biru cantik melatar-belakangi sang patung, hal lain apa lagi yang bisa diharapkan? Entah datang dari arah mana, tiba-tiba angin mendorong sekelompok awan tipis, dalam formasi seolah-olah membentuk asap putih mengepul dari ujung obor, yang sedang menjulang anggun diacungkan oleh Sang Dewi Liberty! Thanks God! ***** (Joseph AB)

Foto (1) Liberty, (2) Wall Street, (3) Passing Zebra Cross, (4) Live Statue, (5) Tribute WTC Centre, (6) Never Sleep City